SEKOLAH SEBAGAI ALAT POLITIK (Telaah terhadap Persoalan Pendidikan di Indonesia)
DOI:
https://doi.org/10.30821/ihya.v3i2.1322Abstrak
Abstrak Tidak berlebihan bila ada statement “Pendidikan merupakan soft power”, kekuatan sejati yang tidak terlihat secara kasat mata tetapi semua orang membutuhkan dan turut merasakan kekuatannya. Pendidikan memberikan kontribusi dan pengaruh politis yang amat besar dalam tatanan kehidupan manusia. Karena itu jangan jadikan pendidikan sebagai alat politik. Pendidikan yang ideal tentu akan melahirkan manusia ideal. Manusia yang sehat, berpendidikan dan berakhlak baik merupakan manusia ideal yang diharapkan akan mampu mengambil peran dan mendidikasikan dirinya untuk mengubah pendidikan menjadi media berpolitik adiluhung atau politik yang beriman dan berbudi pekerti luhur dan sekaligus mampu mendidik politik lewat pendidikan. Pendidikan politik dan politik pendidikan seharusnya tidak saling bermusuhan akan tetapi dapat saling berintegrasi dan berinterkoneksi. Harapan ini diharapkan dapat diwujudkan oleh lembaga pendidikan yang bernama sekolah.Akan tetapi jika sekolah masih diposisikan sebagai alat politik, maka pendidikan politik bagi generasi muda di negeri ini akan mengalami penurununan kualitas dan bahkan mungkin lebih parah lagi. Kebebasan memilih pendidikan yang berkualitas tanpa dibebani biaya yang mahal adalah salah satu harapan di samping peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang berkualitas harus tersebar di seluruh penjuru agar mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat.Referensi
Philip H. Coombs, The World Crisis in Education, (New York, Oxford University Press, 1985)
Everett Reimer, Sekitar Eksistensi Sekolah sebuah Essay tentang Alternatif-alternatif Pendidikan, Penyadur Prof. Drs. M. Soedomo, MA (Yogyakarta, PT. Hanindita, 1987)
Martono, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan: Upaya Mewujudkan Sekolah Berstandar Internasional Berbasis Potensi Lokal, (Purwokerto: Jurusan Sosiologi FISIF Universitas Jenderal Soedirman, 2009)
M. Sirozi, Politik Pendidikan (Jakarta: RajaGrafindo, 2010)
Teguh Wiyono, Rekonstruksi Pendidikan Indonesia (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2010).
Benny Susetyo, Politik Pendidikan Penguasa, (Yokyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara, 2005)
www.dapurpendidikan.com/pembelian-buku-pelajaran-kurikulum-2013.
Unduhan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
Ihya journal provides immediate open access to its content on the principle that making research freely available to the public supports a greater global exchange of knowledge. MIQOT journal Open Access articles are distributed under this CC BY SA.